Lifestyle · Personal

Study Abroad Preparation and Moving to Hat Yai

Halo semua! Di postingan ini saya mau sharing tentang persiapan keberangkatan saya untuk studi ke luar negeri. Alhamdulillah tahun ini saya sudah berangkat ke Thailand, tepatnya di kota Hat Yai untuk melanjutkan studi saya di jenjang master degree (S2). Saya mengambil program studi Human and Social Development di Faculty of Liberal Arts, Prince of Songkla University.

Kurang lebih di bulan oktober ini saya sudah tiga bulan tinggal di Hat Yai ini, and I’m so happy to share anything about my uni life here 🙂 But for the starter, I want to share about my preparation before and after I moved here! So here they  are..

Study Abroad Preparation

Apply Beasiswa (TEH-AC 2017)

Setelah saya sudah mulai kuliah, banyak teman-teman saya yang bertanya

“dapet beasiswa dari mana?”

“besiswanya full nggak?”

“persyaratannya apa aja, san?”

“applynya kemana?”, dll.

Okay jadi sekarang saya coba jelaskan ya. Saya dapat beasiswa namanya TEH-AC (Thailand Education Hub for Southern Region of ASEAN Countries) 2017. Beasiswa ini berasal dari dana pendidikan pemerintah Thailand yang diperuntukkan untuk southern region. Beasiswa ini diprioritaskan untuk pelajar dari negara-negara ASEAN, namun tidak menutup kemungkinan juga pelajar dari negara lain untuk dapat beasiswa ini.

Nah beasiswa ini bentuknya full scholarship, jadi mencakup tuituion fee dan living allowance. Living allowancenya sebesar 10.000Baht/bulan (sekitar Rp4.000.000). Para penerima beasiswa juga akan mendapatkan travel allowance berupa reimbursement airplane ticket. Lumayan kan?

Untuk melihat persyaratan, pendaftaran dan program studi yang tersedia, bisa langsung di klik di websitenya TEH-AC Scholarship. Proses pendaftarannya cukup mudah kok, tinggal isi formulir yang ada di websitenya, dan upload berkas-berkas yang diperlukan seperti passport, IELTS/TOEFL, dan research plan. Semua pendaftaran dan pengumuman, dan info-info lainnya ada di website itu.

Ada juga teman yang nanya ke saya, “dapet informasi tentang beasiswa ini dari mana, san?”. Nah sejak lulus kuliah di tahun 2015 lalu, saya emang rajin cek-cek info beasiswa di internet. Saya pun bergabung di grup Facebook yang suka sharing info tentang beasiswa, dan akhirnya saya menemukan info tentang beasiswa TEH-AC ini. Untuk grup Facebooknya bisa kalian klik disini.

Ada juga yang nanya “kenapa kok pilihnya Thailand, nggak sekalian ke Eropa aja gitu?”. Well, sebenarnya saya tidak memiliki preferensi khusus dalam memilih negara tujuan, yang penting adalah full scholarship dan program studinya sesuai dengan minat saya. Waktu itu saya juga sudah mencoba daftar ke beberapa beasiswa lainnya seperti beasiswa Turkey dan Hungary yang full scholarship, namun sayangnya tidak sampai tahap selanjutnya.

Pertimbangan lainnya memilih beasiswa ini selain karena full scholarship, lokasi Thailand tidak terlalu jauh dari Indonesia jadi tidak terlalu sulit untuk pulang pergi. Saya juga punya ketertarikan khusus dengan Thailand karena saya pernah ke Bangkok tahun 2016 and I love the country and the people 🙂 Yeah so I gave myself a chance!

Pengumuman

Melihat di pengumuman tahun sebelumnya, pengumuman beasiswa TEH-AC ini terbagi dari beberapa gelombang. Kebetulan saat gelombang pertama diumumkan (sekitar April), saya belum masuk di dalam list penerima. Baru sekitar bulan Juni saya mendapatkan email dari universitas untuk mengupload dokumen yang kurang, lalu awal Juli Alhamdulillah saya masuk dalam daftar penerima beasiswa di gelombang kedua.

Saat itu perasaan saya campur aduk, karena saya harus datang di minggu pertama Agustus untuk preparation course, sedangkan it’s just less than a month away. Like it’s really fast. Saya langsung resign dari pekerjaan saya di akhir Juli dan mengurus berbagai keperluan keberangkatan (dan farewell party sama temen-temen terdekat, huhu).

Mengontak Universitas dan Request LOA

Moving abroadNah hal penting yang harus segera dilakukan setelah diterima adalah mengontak universitas untuk menanyakan hal-hal yang harus dilakukan dan apakah ada dokumen yang harus di submit. Saya juga langsung merequest LOA (Letter of Acceptance) yang asli. LOA ini diperlukan untuk apply visa pelajar karena kedutaan Thailand meminta LOA asli dengan cap basah dari universitas.

Karena dikirim lewat pos, maka sampainya juga lumayan lama sekitar 10 hari.  Jadi saran saya setelah diterima segera request LOA nya ya biar bisa segera urus visa dan lainnya.

Saat saya mengontak universitas, saya juga menanyakan mengenai akomodasi di kampus, apakah harus tinggal di asrama atau bagaimana. Di PSU ini ada asrama baik untuk mahasiswa Thailand, maupun mahasiswa internasional. Namun sayangnya saat saya mau booking kamar asrama, kamar asrama internasional sudah fully booked.

Membuat Visa

moving abroad 2

Untuk proses pembuatan visa di kedutaan Thailand, kalian bisa melihat persyaratannya di website kedutaan Thailand ya. Kalian bisa drop berkasnya dari pukul 09.00-12.00 dan waktu pengambilannya di sore hari pukul 13.30-15.00. Proses pembuatan visa memakan waktu 2-3 hari kerja.

moving abroad 3

Untuk formulir yang harus diisi kalian bisa download di website kedutaan Thailand, atau mengisi on the spot di meja yang telah disediakan. Fyi, untuk aplikasi visa ini bisa diwakilkan sehingga kalian yang tinggal di daerah dan tidak memungkinkan untuk datang ke Jakarta bisa memakai biro jasa untuk membantu membuatkan visa. Biaya pembuatan visa pelajar Thailand adalah sebesar Rp1.120.000.

Tips untuk pembuatan visa Thailand:

  • SKCK dari mabes harus dibuat dalam kurun waktu 1 bulan terakhir
  • Jangan lupa membawa KTP/SIM untuk masuk ke dalam kedutaan
  • Datang tepat waktu ya

Mengontak Permitha dan Penerima Beasiswa Lainnya

Kalian pasti pernah mendengar tentang PPI (Perhimpunan Pelajar Indonesia) kan? PPI adalah organisasi perhimpunan pelajar Indonesia yang sedang studi di luar negeri. Umumnya di masing-masing negara memiliki PPI masing-masing. Nah untuk di Thailand ini, namanya adalah Permitha (Perhimpunan Mahasiswa Indonesia di Thailand).

Kebetulan  untuk penerima beasiswa TEH-AC 2017 sudah memiliki grup Line sehingga saya mudah untuk berkomunikasi dengan teman-teman lainnya. Dari grup itu saya juga diberikan kontak Permitha untuk cabang PSU. Perwakilan dari Permitha ini yang membantu menjawab pertanyaan saya seputar keberangkatan dan mencarikan tempat tinggal untuk saya, karena saya tidak dapat dorm.

Nah untuk kalian yang baru diterima beasiswa di luar negeri, langsung saja mencari teman sesama penerima beasiswa dan mengontak perwakilan PPI di negara tujuan kalian.

Persiapan Keberangkatan

moving abroad 5

Persiapan keberangkatan saya sejujurnya sangat singkat dan ringkas. Setelah seluruh dokumen sudah lengkap, saya membeli berbagai perlengkapan dan yang penting stok makanan Indonesia seperti Indomie, sambal terasi sachet, rendang instan, obat-obatan, dan lainnya. Saya juga membawa setrika dan hairdryer dari Indonesia karena dapat informasi dari teman yang sudah duluan sampai, kalau barang elektronik disini wattnya jauh lebih besar sehingga lebih hemat jika bawa dari Indonesia.

Sebenarnya yang lebih penting untung disiapkan untuk keberangkatan adalah hati, mental dan pikiran kita karena jauh dari keluarga dan teman-teman dekat itu adalah hal yang berat untuk dijalani dan kita harus siap untuk menghadapi kehidupan di perantauan selama beberapa tahun kedepan :”) Not kidding, but being anak rantau is hard for me yang selama 23 tahun ini selalu dekat dengan keluarga dan teman-teman (terlama saya meninggalkan rumah hanya sebulan untuk student exchange ke Taiwan di 2013). So, buat kalian yang soon-to-be anak rantau prepare yourself well ya guys!

 

Moving to Hat Yai: Basic Guideline

hat yai 3

Akomodasi

Untuk tempat tinggal, karena saya tidak mendapatkan dormitory, saya akhirnya tinggal di luar kampus. Di sekitar PSU banyak apartemen untuk mahasiswa dengan range harga yang bervariasi juga, tergantung fasilitas yang diberikan. Untuk kamar AC dengan kamar mandi dalam range nya sekitar THB2300~3000an.

Saya tinggal di apartemen “PS House” dengan harga THB2300/bulan. Fasilitas yang saya dapatkan adalah kamar mandi dalam, AC, dan wifi. Oh ya, disini untuk harga kamar belum termasuk air dan listrik ya. Untuk tagihan air dan listrik akan keluar sesuai pemakaian di akhir bulan. Kebetulan yang tinggal di apartemen ini mayoritas adalah orang Indonesia jadi saya tidak merasa sendirian disini.

Biaya Hidup

Untuk biaya hidup dengan 10.000 Baht yang didapat dari beasiswa, kalau menurut saya sih pas-pasan banget :p Mungkin bawaan cewek pengennya belanja terus jadi susah untuk hemat, hahaha. Untuk biaya makan standarnya per sekali makan berkisar 20-50 Baht, tapi kalau kalian makan di mall atau restoran tentu range harganya lebih mahal lagi. Makanan termurah yang ada di sekitar apartemen saya adalah nasi dan telur dadar, yang harganya 20 Baht. Ada juga sate ayam kesukaan saya seharga 10 Baht/tusuk. Untuk harga kebutuhan hidup lainnya seperti kebutuhan sehari-hari, pakaian, kosmetik harganya rata-rata sama sih dengan di Indonesia.

Lingkungan

Thailand Selatan memiliki jumlah penduduk muslim yang lumayan banyak, termasuk di Hat Yai. Jadi untuk kalian yang juga muslim, tidak usah khawatir untuk menemukan makanan halal dan komunitas muslim disini. Untuk menemukan makanan halal, kalian tinggal lihat label halal yang biasanya ditempel di spanduk kios atau restorannya, atau lebih mudahnya lihat penjualnya, jika memakai kerudung berarti menjual makanan halal, hehehe.

Nah, kebanyakan dari penduduk muslim di Thailand Selatan ini juga bisa berbahasa melayu, sehingga semakin mempermudah kita untuk berkomunikasi dengan mereka, misalnya saat membeli makanan. Sejauh ini saya merasa nyaman dan mudah untuk mendapatkan makanan halal.

hat yai 9

Mungkin satu kecemasan di awal adalah banyak sekali anjing liar yang berkeliaran dimana saja. Di kampus, di pinggir jalan, di tiap-tiap fakultas, dan bahkan di depan seven eleven, ada aja satu atau dua anjing lair yang entah tidur, jalan-jalan, macem-macem pokoknya. Karena saya takut sama anjing, jadi awalnya kayak parno gitu dan takut-takut tapi akhirnya karena sudah terbiasa ya udah biasa aja. Not really a big deal now.

Transportasi

hat yai 4

Meskipun saya merasa nyaman tinggal disini, tapi tetap ada downside yang cukup besar. Masalah utama bagi saya adalah transportasi umum yang tidak memadai. Terbiasa tinggal di kota besar seperti Jakarta, membuat saya bergantung kepada mudahnya mobilitas menggunakan transportasi umum seperti KRL, Trans Jakarta, angkot, ojek online, dan taksi. Di Hat Yai ini transportasi umum yang tersedia terbatas, hanya ada Tuk Tuk, Songthaew, dan ojek. Taksi sangat jarang hanya di daerah dekat bandara.

hat yai 2
Tuk-tuk dan Songthaew

Tuk Tuk dan Songthaew memiliki bentuk yang mirip, tapi berbeda penggunaannya. Secara ukuran, Songthaew lebih besar dan memiliki tulisan rute di bagian depan dan belakang. Sedangkan Tuk Tuk berukuran lebih kecil dan tidak ada tulisan rute. Tuk Tuk bisa mengantarkan kita sesuai tujuan, namun tidak bisa dikatakan transportasi privat karena bisa aja ada penumpang lain yang naik jika searah dengan kita. Tarifnya juga disesuaikan dengan jarak dan tawar menawar dengan supir Tuk Tuk tersebut. Sedangkan Songthaew seperti angkot yang sudah memiliki rute dan tarif yang jelas dan kita bisa naik dan turun dimanapun sesuai tujuan kita.

Next time saya akan cerita lebih banyak lagi tentang Hat Yai dan kehidupan disini, tapi untuk sekarang segini dulu ya. If you got any question, feel free to put it in the comment box below atau boleh juga email ke saya ke alamat email yang tertera di halaman “about me”.

Bye, see ya!

 

Advertisements

4 thoughts on “Study Abroad Preparation and Moving to Hat Yai

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s